HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sampah Tak Muncul Begitu Saja, Bunda Bekerja Garut Ajak Para Ibu Mulai Perubahan dari Rumah

Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai sekitar 29,2 juta ton per tahun. Namun, hanya sekitar 32,9 persen yang berhasil dikelola, sementara sisanya masih berpotensi mencemari lingkungan.

Masalah tersebut tidak lepas dari aktivitas rumah tangga. Berdasarkan data SIPSN, rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia, dengan komposisi sampah yang didominasi oleh sisa makanan dan sampah plastik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus dimulai dari perubahan kebiasaan di dalam keluarga.

Di Jawa Barat, tantangan yang dihadapi juga serupa. Sebagian besar sampah berasal dari aktivitas rumah tangga sehingga keluarga menjadi kunci dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Melihat kondisi tersebut, Bunda Bekerja Garut menggelar webinar bertajuk "Super Mom, Zero Waste" dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian para ibu terhadap pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah rumah tangga.

Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa seorang ibu memiliki peran strategis sebagai sosok yang membentuk kebiasaan di dalam keluarga. Kepedulian seorang ibu terhadap lingkungan akan menjadi teladan bagi anak-anak sehingga nilai-nilai menjaga kebersihan dan kelestarian alam dapat tumbuh sejak usia dini.

"Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Apa yang dibiasakan di rumah akan menjadi karakter yang dibawa hingga mereka dewasa. Ketika ibu peduli terhadap lingkungan, maka keluarga pun akan ikut peduli," ujar Teh Iin dalam pemaparannya.

Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai berbagai cara sederhana mengelola sampah rumah tangga. Langkah tersebut di antaranya memilah sampah sesuai jenisnya, mengolah sampah organik menggunakan komposter, menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, membuat eco-enzyme, memanfaatkan lubang biopori, mengolah barang bekas menjadi kerajinan, hingga membuat eco-brick sebagai alternatif pemanfaatan sampah plastik.

Selain itu, webinar juga mengajak para peserta menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan melalui kebiasaan sederhana. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sejak dari rumah, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, serta menghindari perilaku berlebihan (israf) dengan membeli kebutuhan secukupnya.

Dalam pemaparan materi juga dijelaskan bahwa pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari pencemaran lingkungan, meningkatnya risiko penyakit, banjir, hingga mempercepat perubahan iklim. Oleh karena itu, setiap keluarga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menghabiskan makanan agar tidak terbuang sia-sia dan membawa alat makan maupun botol minum sendiri saat beraktivitas.

Melalui webinar "Super Mom, Zero Waste", Bunda Bekerja Garut berharap semakin banyak keluarga yang menyadari bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten di rumah akan memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan sekaligus menjadi warisan terbaik bagi generasi mendatang.

Momentum Hari Lingkungan Sedunia menjadi pengingat bahwa akar persoalan sampah memang banyak bermula dari rumah. Karena itu, rumah pula yang harus menjadi tempat pertama lahirnya solusi, dimulai dari kepedulian seorang ibu yang menginspirasi seluruh anggota keluarga untuk hidup lebih ramah terhadap lingkungan.


Posting Komentar