HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Dari Memberi ke Memberdayakan: Wajah Baru Filantropi yang Dibutuhkan Masyarakat

Ketika mendengar kata "filantropi", yang sering terbayang adalah seseorang memberikan uang kepada orang lain yang membutuhkan. Ada yang memberikan sembako, santunan, biaya pendidikan, atau bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Irfan Faisal Hadi

Semua itu tentu baik. Bahkan dalam kondisi tertentu, bantuan langsung memang sangat dibutuhkan.

Ketika seseorang tidak memiliki makanan untuk hari ini, tentu kita tidak bisa hanya memberinya pelatihan untuk menghadapi kehidupan beberapa bulan ke depan. Ia membutuhkan makanan sekarang. Ketika rumah seseorang rusak karena bencana, yang pertama dibutuhkan adalah tempat yang aman untuk tinggal, bukan seminar tentang kemandirian ekonomi.

Artinya, bantuan langsung tetap memiliki tempat yang sangat penting dalam filantropi.

Namun, saya kira ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: setelah bantuan diberikan, apa yang terjadi selanjutnya?

Apakah orang tersebut akan kembali membutuhkan bantuan yang sama bulan depan? Atau justru kita bisa membantunya memiliki kemampuan agar perlahan mampu berdiri sendiri?

Di sinilah menurut saya wajah filantropi perlu terus berkembang.

Bantuan Itu Penting, Tetapi Tidak Selalu Cukup

Memberikan bantuan adalah bentuk kepedulian. Tetapi dalam persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, kepedulian saja tidak cukup.

Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan bekerja, tetapi tidak memiliki alat. Ada yang memiliki keterampilan, tetapi tidak memiliki kesempatan. Ada yang memiliki keinginan untuk berusaha, tetapi tidak memiliki modal.

Ada pula yang ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi tidak memiliki sertifikat atau kompetensi yang dibutuhkan.

Kalau kita hanya melihat mereka sebagai orang yang membutuhkan uang, mungkin bantuan yang diberikan akan berhenti pada uang.

Padahal, bisa jadi yang mereka butuhkan sebenarnya adalah kesempatan.

Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk memiliki alat produksi. Kesempatan untuk mendapatkan akses pasar. Atau sekadar kesempatan untuk mendapatkan seseorang yang mendampingi mereka ketika sedang membangun usaha.

Filantropi yang Mengubah Cara Pandang

Di sinilah konsep filantropi pemberdayaan menjadi penting. Dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak semestinya hanya dipandang sebagai dana yang harus segera disalurkan. Dana sosial tersebut juga memiliki potensi untuk menjadi modal perubahan apabila dikelola dengan perencanaan yang baik.

Misalnya, seseorang yang memiliki keterampilan menjahit bisa mendapatkan mesin jahit.

Orang yang memiliki kemampuan memasak bisa mendapatkan pelatihan sekaligus peralatan yang dibutuhkan untuk memulai usaha. Anak dari keluarga kurang mampu bisa mendapatkan akses pendidikan.

Seseorang yang belum memiliki keterampilan kerja dapat mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi.

Bagi saya, pendekatan seperti ini menarik karena bantuan tidak berhenti ketika barang atau uang berpindah tangan. Ada proses lanjutan yang diharapkan membuat penerima manfaat memiliki kemampuan untuk berkembang.

Memang hasilnya tidak selalu cepat. Bisa jadi usaha seseorang baru berkembang setelah berbulan-bulan. Bisa juga ada yang gagal pada percobaan pertama. Bahkan mungkin harus memulai kembali.

Tetapi justru di situlah pentingnya pendampingan. Pemberdayaan memang membutuhkan waktu.

Dari Mustahik Menjadi Muzakki

Ada satu gagasan yang menurut saya sangat menarik dalam pengembangan filantropi Islam, yaitu bagaimana mustahik suatu hari dapat menjadi muzakki.

Hari ini seseorang mungkin berada dalam posisi menerima zakat karena kondisi ekonominya belum memungkinkan. Namun, apakah harus selamanya seperti itu? Tentu tidak.

Bayangkan jika dana zakat yang diterima seseorang digunakan sebagai bagian dari proses untuk meningkatkan keterampilan dan pendapatannya. Ia kemudian memiliki usaha kecil. Usahanya berkembang. Pendapatannya meningkat. Kebutuhan keluarganya mulai terpenuhi.

Beberapa tahun kemudian, bukan tidak mungkin ia justru berada dalam posisi yang mampu membayar zakat dan membantu orang lain.

Menurut saya, di situlah salah satu ukuran keberhasilan pemberdayaan. Bukan berarti setiap mustahik harus dipaksa menjadi pengusaha atau harus selalu berhasil secara ekonomi. Kondisi setiap orang berbeda.

Tetapi setidaknya, filantropi memberikan mereka kesempatan untuk menjadi lebih mandiri.

Ada perbedaan besar antara sekadar memberikan ikan dan membantu seseorang memiliki kemampuan untuk mencari ikan sendiri. Keduanya sama-sama memiliki manfaat, tetapi dampak jangka panjangnya bisa berbeda.

ZISWAF Produktif Harus Berangkat dari Kebutuhan Nyata

Pembicaraan mengenai ZISWAF produktif juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Jangan sampai kita berpikir bahwa setiap dana zakat harus diputar menjadi modal usaha. Tidak semua orang membutuhkan modal usaha.

Ada yang membutuhkan biaya pendidikan. Ada yang membutuhkan pengobatan. Ada yang membutuhkan pekerjaan. Ada yang membutuhkan alat kerja. Ada yang membutuhkan pendampingan psikososial. Ada pula yang memang membutuhkan bantuan konsumtif karena sedang berada dalam keadaan darurat.

Karena itu, pemberdayaan seharusnya dimulai dari pemetaan kebutuhan. Kita perlu mengenal penerima manfaat lebih dekat.

Apa masalahnya? Apa kemampuannya? Apa yang sudah dimiliki? Apa yang ingin dikembangkan? Dan bantuan seperti apa yang paling mungkin membuat kehidupannya menjadi lebih baik?

Dengan cara tersebut, dana sosial tidak diberikan hanya karena sebuah program terlihat bagus, tetapi karena memang sesuai dengan kebutuhan orang yang dibantu.

Pemberdayaan Tidak Bisa Dilakukan Sendirian

Tentu saja, membangun filantropi berbasis pemberdayaan bukan pekerjaan satu pihak. Lembaga zakat membutuhkan dukungan pemerintah. Program pemberdayaan membutuhkan tenaga pendamping. Pelaku usaha dapat membantu membuka akses pasar. Dunia pendidikan dapat menyediakan pelatihan. Komunitas dapat menjadi penghubung dengan masyarakat.

Bahkan masyarakat yang menjadi penerima manfaat juga perlu dilibatkan dalam menentukan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kolaborasi seperti ini menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar membuat banyak program.

Sebab persoalan kemiskinan tidak pernah sederhana. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan uang. Tidak juga bisa diselesaikan hanya dengan memberikan pelatihan. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat seseorang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Jangan Sampai Pemberdayaan Membuat Kita Lupa pada Kemanusiaan

Namun, saya juga ingin menekankan satu hal.

Semangat pemberdayaan jangan sampai membuat kita menganggap bantuan konsumtif sebagai sesuatu yang tidak penting. Ada kondisi ketika seseorang memang hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan.

Orang tua yang sudah lanjut usia, korban bencana, keluarga yang sedang mengalami musibah, atau seseorang yang berada dalam kondisi tertentu mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti program pemberdayaan ekonomi.

Dalam kondisi seperti itu, membantu memenuhi kebutuhan dasarnya adalah bentuk kemanusiaan. Jadi, menurut saya, bukan soal memilih antara memberi atau memberdayakan. Keduanya memiliki tempat masing-masing. Ketika seseorang sedang jatuh, kita ulurkan tangan. Ketika ia sudah mulai berdiri, kita bantu agar ia memiliki kemampuan untuk berjalan. Dan ketika ia sudah mampu berjalan, kita berikan ruang agar ia bisa berkembang. Begitulah seharusnya filantropi berjalan.

Membangun Ekonomi Umat dari Kebaikan

Filantropi memiliki potensi yang sangat besar untuk ikut memperkuat ekonomi umat.

Bukan karena dana zakat dan dana sosial harus dipaksakan menjadi instrumen ekonomi, tetapi karena masyarakat yang berdaya secara ekonomi akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan berkontribusi kepada lingkungan.

Ketika satu keluarga menjadi mandiri, dampaknya bisa dirasakan oleh anggota keluarganya. Ketika sebuah usaha kecil tumbuh, mungkin ada orang lain yang mendapatkan pekerjaan. Ketika seseorang mendapatkan keterampilan baru, peluang ekonominya bisa bertambah.

Dan ketika seseorang yang dahulu menjadi penerima manfaat kemudian mampu berbagi kepada orang lain, lingkaran kebaikan itu semakin luas. Di situlah filantropi memiliki makna yang lebih dalam.

Ia tidak hanya memindahkan sebagian harta dari satu tangan ke tangan lainnya, tetapi juga dapat memindahkan kesempatan.

Dari Memberi ke Memberdayakan

Pada akhirnya, saya percaya bahwa kita tidak perlu meninggalkan tradisi memberi. Justru budaya memberi harus terus dirawat. Tetapi di saat yang sama, kita perlu memperluas cara kita melihat filantropi.

Ada saatnya kita memberi. Ada saatnya kita mendampingi. Ada saatnya kita membuka akses.

Dan ada saatnya kita percaya kepada seseorang bahwa ia mampu berkembang ketika diberikan kesempatan.

Mungkin inilah yang perlu kita bangun bersama: sebuah filantropi yang tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, tetapi juga hadir untuk menemani mereka menemukan kekuatan yang sebenarnya sudah mereka miliki.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah kebaikan tidak selalu terlihat dari banyaknya bantuan yang dibagikan.

Kadang, keberhasilan itu baru terlihat beberapa tahun kemudian, ketika seseorang yang dahulu kita bantu ternyata sudah mampu berdiri sendiri.

Bahkan lebih indah lagi, ketika ia kemudian berkata:

“Dulu saya pernah dibantu. Sekarang, giliran saya membantu orang lain.”

Bagi saya, di situlah filantropi menemukan maknanya.

Dari memberi, kita bergerak menuju memberdayakan. Dari mustahik, kita berharap lahir para muzakki. Dan dari kebaikan yang kita tanam hari ini, semoga tumbuh kemandirian bagi generasi yang akan datang.

— Irfan Faisal Hadi, S.E., M.M.

Posting Komentar