Tetap Cinta Indonesia, Apa Pun yang Terjadi
Ada kalanya mencintai Indonesia terasa begitu mudah. Ketika melihat Sang Merah Putih berkibar, mendengar Indonesia Raya dinyanyikan, menyaksikan atlet Indonesia berdiri di podium, atau melihat anak-anak muda menghasilkan karya yang membanggakan, rasanya tidak sulit mengatakan, “Saya bangga menjadi orang Indonesia.” Namun, bagaimana ketika keadaan tidak sesuai harapan? Ketika kita melihat merasakan tekanan ekonomi, atau melihat perdebatan di media sosial yang semakin keras? Pada saat seperti itulah, menurut saya, makna mencintai Indonesia benar-benar diuji.
![]() |
| Isnat Ahmad Zulfaqor |
Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), saya semakin menyadari bahwa mencintai Indonesia tidak berarti kita harus selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Justru menurut saya, mencintai Indonesia berarti cukup peduli untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki.
Kita tidak perlu menutup mata terhadap persoalan bangsa. Masih ada kemiskinan, tantangan ekonomi, hingga persoalan literasi dan disinformasi di ruang digital. Namun, apakah karena itu kita harus berhenti mencintai Indonesia? Bagi saya, jawabannya tentu tidak. Justru karena kita mencintainya, kita tidak boleh menyerah.
Saya sering membayangkan Indonesia seperti rumah besar yang kita tempati bersama. Kalau ada atap yang bocor, tentu kita tidak akan membakar seluruh rumah hanya karena kecewa. Kita mencari sumber kebocoran dan memperbaikinya. Kalau ada bagian rumah yang rusak, kita perbaiki sedikit demi sedikit.Begitu juga dengan Indonesia. Ada hal-hal yang bisa dikritik, tetapi kritik tidak selalu berarti kebencian. Kritik yang lahir dari kepedulian justru bisa menjadi salah satu bentuk cinta. Kita boleh kecewa terhadap sebuah kebijakan dan boleh juga mempertanyakan keputusan pemerintah. Yang perlu kita hindari adalah ketika rasa kecewa berubah menjadi kebencian kepada negeri sendiri dan membuat kita tidak lagi peduli.
Sebagai ASN, saya tidak menganggap bahwa mengenakan seragam sudah otomatis membuat seseorang menjadi nasionalis. Jabatan juga bukan bukti pengabdian. Bagi saya, cinta kepada Indonesia justru diuji melalui pekerjaan sehari-hari.Ketika kita tetap memberikan pelayanan dengan baik meskipun sedang lelah, ketika kita tidak membeda-bedakan masyarakat yang datang, ketika kita menyelesaikan pekerjaan dengan jujur meskipun tidak ada yang mengawasi, ketika kita berusaha memperbaiki cara kerja yang sudah tidak efektif, dan ketika kita menggunakan fasilitas serta anggaran negara dengan penuh tanggung jawab, di situlah pengabdian menjadi nyata. Mungkin tidak terlihat heroik, tetapi hal-hal sederhana seperti itu justru yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Saya juga percaya bahwa mencintai Indonesia pada zaman sekarang memiliki tantangan yang berbeda. Kita hidup di era media sosial, ketika sebuah informasi bisa menyebar dalam hitungan detik. Satu potongan video bisa membuat orang marah, satu pernyataan yang dipotong dari konteksnya bisa menimbulkan kesalahpahaman, dan satu unggahan bisa memecah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang saling menyerang.Kita boleh berbeda pilihan politik, berbeda pandangan, bahkan berbeda pendapat tentang kebijakan pemerintah. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bahwa orang yang berbeda dengan kita tetap merupakan bagian dari Indonesia. Menurut saya, salah satu bentuk cinta tanah air yang sederhana hari ini adalah belajar menahan diri sebelum membagikan sesuatu. Tanyakan dulu, apakah informasi itu benar, apakah bermanfaat, dan apakah perlu disebarkan? Nasionalisme di era digital tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Kadang cukup dengan tidak ikut menyebarkan kebencian.
Di sisi lain, saya juga memahami mengapa sebagian masyarakat merasa kecewa. Kita sedang menghadapi banyak persoalan. Tekanan ekonomi, kebutuhan hidup, perkembangan teknologi, dan berbagai persoalan sosial membuat kehidupan tidak selalu mudah. Tetapi mungkin justru di situlah kita harus membedakan antara kecewa dengan keadaan dan berhenti mencintai negeri sendiri.
Kita boleh kecewa. Tetapi saya tidak ingin rasa kecewa itu membuat saya berhenti peduli. Bagi saya, rasa kecewa justru bisa menjadi energi untuk melakukan sesuatu. Kalau pelayanan belum baik, mari kita perbaiki pelayanan. Kalau ada informasi yang salah, mari kita lawan dengan informasi yang benar. Kalau ada persoalan di lingkungan kita, mari kita cari solusi. Kalau kita melihat sesuatu yang tidak sesuai harapan, jangan hanya bertanya siapa yang salah, tetapi tanyakan juga apa yang bisa kita lakukan.
Saya juga tidak percaya bahwa untuk mencintai Indonesia kita harus menjadi pahlawan besar. Tidak semua orang harus menciptakan inovasi yang spektakuler, memenangkan penghargaan, atau menghasilkan sesuatu yang viral. Indonesia dibangun oleh jutaan kontribusi kecil yang dilakukan setiap hari.
Guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari pembangunan Indonesia. Petani yang terus menanam adalah bagian dari pembangunan Indonesia. Pelaku UMKM yang mempertahankan usahanya adalah bagian dari pembangunan Indonesia. Orang tua yang mendidik anaknya adalah bagian dari pembangunan Indonesia. ASN yang memberikan pelayanan dengan baik juga merupakan bagian dari pembangunan Indonesia. Tidak semua kontribusi akan masuk berita, tidak semua akan mendapatkan penghargaan, tetapi bukan berarti kontribusi tersebut tidak berarti.
Pada akhirnya, kita tidak harus menganggap semuanya sempurna untuk tetap berharap. Kita boleh mengkritik, tetapi jangan berhenti peduli. Kita boleh kecewa, tetapi jangan menyerah. Kita boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan rasa hormat. Menurut saya, inilah bentuk nasionalisme yang lebih dewasa: mencintai Indonesia bukan karena Indonesia selalu sempurna, tetapi karena kita sadar bahwa negeri ini adalah rumah yang harus terus kita rawat bersama.
Ketika Indonesia memperingati kemerdekaannya, saya tidak ingin kemerdekaan hanya dimaknai melalui upacara, bendera, dan perayaan. Semua itu penting sebagai bentuk rasa syukur, tetapi ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?
Mungkin jawaban kita sederhana. Mungkin hanya tentang pekerjaan yang kita selesaikan dengan baik, pelayanan yang kita berikan dengan tulus, ilmu yang kita bagikan, usaha yang kita jalankan, atau orang lain yang kita bantu. Tidak apa-apa. Sebab Indonesia tidak selalu dibangun oleh sesuatu yang besar. Indonesia juga dibangun oleh orang-orang biasa yang setiap hari memilih untuk melakukan hal yang benar.
Saya tidak tahu seperti apa Indonesia beberapa puluh tahun lagi. Mungkin tantangannya akan semakin kompleks. Teknologi akan semakin berkembang, dunia kerja akan berubah, persoalan ekonomi akan terus datang dan pergi, dan masyarakat akan memiliki kebutuhan yang semakin beragam. Tetapi saya berharap satu hal tidak berubah: keinginan kita untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.
Karena itu, saya ingin terus mengingatkan diri sendiri bahwa mencintai Indonesia bukan berarti mengatakan bahwa Indonesia selalu benar. Mencintai Indonesia berarti ketika melihat sesuatu yang salah, kita memilih untuk memperbaikinya, bukan meninggalkannya. Ketika kecewa, kita memilih untuk tetap peduli. Ketika berbeda, kita memilih untuk tetap menghormati. Ketika diberi kesempatan, kita memilih untuk memberikan manfaat.
Tetap cinta Indonesia, apa pun yang terjadi. Bukan karena Indonesia sempurna, tetapi karena Indonesia adalah tempat kita tumbuh, tempat kita bekerja, tempat keluarga kita hidup, dan tempat kita menaruh harapan. Kalau ada yang kurang, mari kita perbaiki. Kalau ada yang salah, mari kita luruskan. Kalau ada yang belum baik, mari kita mulai dari diri sendiri. Sebab pada akhirnya, Indonesia tidak membutuhkan orang-orang yang hanya mencintainya ketika semuanya berjalan baik. Indonesia membutuhkan orang-orang yang tetap memilih untuk peduli ketika keadaan sedang tidak mudah.
